APN Kuatkan Peran Mama-Mama Papua, Tekankan Pentingnya Perempuan Adat dalam Pembangunan
NABIRE — Aliansi Perempuan Nabire (APN) menggelar Sosialisasi Pemberdayaan Perempuan dengan tema “Peranan Perempuan Adat sebagai Agen Perubahan dalam Pembangunan”, pada Sabtu (6/12/2025) di Gang Masuk Grand Hotel Papua, Kelurahan Kalibobo, Distrik Nabire, Papua Tengah. Kegiatan berlangsung pukul 11.49 WIT hingga 13.35 WIT dan diikuti sekitar 70 peserta.
Sosialisasi ini dipimpin Ketua Aliansi Perempuan Nabire, Ibu Oktavia, dan menghadirkan sejumlah tokoh perempuan, di antaranya Ibu Adriana Sahempa (Ketua Persatuan Perempuan Nusantara Papua Tengah), Ibu Mirna Anembora (Anggota MRP Papua Tengah Pokja Perempuan), dan Ibu Maya Yakadewa.
Dalam sambutannya, Ketua Persatuan Perempuan Nusantara Papua Tengah, Ibu Adriana Sahempa, menegaskan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan.
“Kita semua tahu, perempuan adalah penerus kehidupan di dunia ini. Tugas kita adalah menjalankan peran tersebut dengan penuh tanggung jawab,” bilang Adriana.
Ia menambahkan bahwa organisasinya terbuka bagi seluruh perempuan dari Sabang sampai Merauke yang berdomisili di Papua Tengah, untuk bersama-sama menjadi mitra pemerintah.
“Tujuan kami adalah menjadi mitra pemerintah dalam mensukseskan program-program pembangunan, seperti makanan bergizi untuk anak-anak dan program lain yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Adriana juga menekankan bahwa perempuan memiliki kekuatan besar, bukan sosok yang lemah. “Tubuh perempuan dirancang untuk menahan berbagai tantangan. Itu bukti kekuatan perempuan yang luar biasa,” tegasnya.
Ketua APN, Ibu Oktavia, menyampaikan materi sosialisasi bertema “Mama-Mama Papua sebagai Penggerak Dukungan Masyarakat terhadap Program Nasional”.
Menurutnya, mama-mama Papua memegang peran strategis dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya.
“Mama-Mama Papua adalah pilar penting yang mampu menggerakkan perekonomian lokal, menjaga nilai budaya, hingga menentukan keputusan dalam keluarga dan komunitas,” jelas Oktavia.
Ia menyebutkan empat tujuan utama sosialisasi, antara lain meningkatkan pengetahuan mama-mama Papua mengenai program strategis pemerintah serta mendorong peran perempuan sebagai agen perubahan di kampung, gereja, dan komunitas.
Dalam sesi tanya jawab, dua peserta menyampaikan aspirasi penting.
Ibu Elisabeth mengeluhkan sulitnya pemasaran noken, meski mama-mama memiliki keahlian menganyam. “Kami mohon pemerintah membantu agar kerajinan kami bisa lebih mudah dipasarkan,” tuturnya.
Sementara Ibu Masakeri meminta perhatian pemerintah terkait permohonan kios kontainer dan payung untuk berjualan yang belum terealisasi.
Menanggapi hal tersebut, Ketua APN memberikan apresiasi dan memastikan aspirasi akan diteruskan.
“Kesulitan pemasaran noken perlu diselesaikan melalui pelatihan pengemasan, peningkatan kualitas, serta pemasaran digital. Kami juga berharap pemerintah bermitra dengan UMKM dan toko cenderamata,” jelas Oktavia.
Terkait kebutuhan fasilitas berdagang, ia menegaskan, “Aspirasi mengenai kios kontainer dan payung jualan akan kami sampaikan kepada dinas terkait agar dapat direalisasikan secara adil dan tepat sasaran.”
Anggota MRP Papua Tengah Pokja Perempuan, Ibu Mirna Anembora, menegaskan bahwa perempuan adat memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan.
“Kita bukan hanya pelengkap, tetapi penentu arah bagi masa depan komunitas, budaya, dan keluarga,” bilang Mirna.
Ia mengungkapkan bahwa MRP telah mengusulkan aturan khusus yang memberi ruang bagi perempuan adat dalam ekonomi kerakyatan.
“Undang-undang boleh ada, tapi kalau pemerintah tidak memberi perhatian, maka aturan itu tidak bermakna. Otsus tidak berjalan bagi perempuan bila mereka tidak diberi ruang nyata,” ungkapnya.
Mirna juga mendorong pelestarian budaya, pembentukan kelompok perempuan adat, hingga kerja sama dengan sekolah untuk menjaga identitas sejak usia dini.
Mulai Januari, APN dijadwalkan turun langsung ke kampung-kampung melakukan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan bagi perempuan adat.
Kegiatan sosialisasi ditutup dengan foto bersama, penyerahan bantuan sembako secara simbolis, dan ramah tamah antara para peserta dan tokoh perempuan.












