7 Orang Alami Gejala Diare Usai Diduga Konsumsi MBG di Nabire, Badan Gizi Nasional Lakukan Evaluasi

Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Marsel Asyerem, didampingi Kepala SPPG Kampung Lani Ayub Melkion Mamoribo serta Asisten Lapangan (Aslap) Dapur SPPG Kampung Lani Mikael Sarfunin, saat memberikan penjelasan terkait evaluasi pelayanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nabire. (Foto: Achmad Yusran/infoNabire.com)

Berdasarkan catatan dapur SPPG Lani, menu MBG pada hari tersebut terdiri dari nasi putih, telur ceplok, sayur, buah kelengkeng, dan saus.

Namun menurut penjelasan sementara dokter, kemungkinan gangguan kesehatan bukan berasal dari makanan pokok seperti nasi, telur, atau sayur.

“Dokter menduga kemungkinan ada kontaminasi pada saus. Karena itu, kami akan melakukan evaluasi dan kemungkinan menghindari penggunaan saus dalam menu ke depan,” kata Marsel.

Ia menegaskan bahwa dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian medis lebih lanjut.

Dalam prosedur operasional dapur MBG, setiap menu yang disajikan sebenarnya disimpan sebagai sampel makanan untuk keperluan uji laboratorium apabila terjadi masalah.

Namun dalam kasus ini, sampel makanan telah melewati masa penyimpanan karena laporan baru diterima dua hari setelah kejadian.

Baca juga:  Danrem 173/PVB Ajak Prajurit dan Warga Nabire Manfaatkan Lahan Kosong

“Seharusnya jika laporan diterima pada hari yang sama, sampel bisa langsung diuji ke BPOM. Tetapi karena selang waktunya sudah dua hari, sampel tersebut sudah harus diganti dengan makanan baru,” jelasnya.

Meski demikian, proses investigasi tetap dapat dilakukan melalui pemeriksaan medis pasien, termasuk analisis sampel muntahan atau cairan tubuh yang kemungkinan akan diuji di laboratorium Jayapura.

Dalam evaluasi awal, tim juga menemukan adanya beberapa penerima manfaat yang membawa pulang makanan berkuah atau basah, padahal aturan MBG melarang hal tersebut karena berpotensi cepat basi.

“Makanan basah sebenarnya tidak boleh dibawa pulang karena bisa cepat basi. Kami menemukan ada beberapa yang dibawa pulang, bahkan ada yang tidak dimakan siswa, tetapi dimakan anggota keluarga di rumah,” kata Marsel.

Baca juga:  Meski Jadi Korban Bacok, Pendeta Ini Tetap Mengampuni dan Ikhlas

Ia menyebutkan bahwa dari tujuh kasus yang ada, tiga orang membawa pulang makanan, sementara empat orang mengonsumsi makanan di sekolah.

l

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup