Genre Musik “Timurnesia” Diusulkan, Musik Indonesia Timur Siap Melaju ke Panggung Global

Musisi dari kawasan timur Nusantara mengusulkan penamaan genre musik “Timurnesia” sebagai identitas kolektif karya musik Indonesia Timur. (Foto: Instagram/idetimur.id

InfoNabire.com – Musisi dari kawasan timur Nusantara mengusulkan penamaan genre musik “Timurnesia” sebagai identitas kolektif karya musik Indonesia Timur. Usulan ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Kementerian Kebudayaan RI yang digelar di Jakarta pada 28 Januari 2026.

Gagasan tersebut muncul seiring melejitnya popularitas lagu-lagu Indonesia Timur di platform digital sepanjang 2025 hingga awal 2026. Sejumlah karya seperti Tabola Bale, Orang Baru Lebe Gacor, dan Mode Pesawat berhasil menembus selera pendengar lintas wilayah dan generasi.

Pemerintah Nilai Musik Lokal Mampu Tembus Pasar Luas

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai fenomena ini membuktikan bahwa musik berbasis kearifan lokal memiliki daya saing tinggi. Dalam keterangannya, ia menyebut viralnya lagu-lagu dari Indonesia Timur sebagai sinyal kuat bahwa kreativitas daerah mampu berbicara di level nasional bahkan global.

“Musik dari Indonesia Timur menunjukkan karakter kuat dan autentik, sehingga bisa diterima oleh masyarakat luas,” ungkap Fadli Zon.

Pengamat: Penamaan Penting, Tapi Ekosistem Lebih Menentukan

Pengamat musik Buddy Ace menyambut positif usulan genre Timurnesia. Menurutnya, penamaan genre dapat membantu pengenalan musik Indonesia Timur ke pasar internasional. Namun, ia menegaskan bahwa nama saja tidak cukup.

Buddy mencontohkan keberhasilan K-pop yang ditopang oleh ekosistem industri kuat, mulai dari pembinaan talenta, produksi berkualitas, hingga strategi promosi global yang terstruktur.

Baca juga:  11 Napi Diduga KKB Kabur dari Lapas Kelas IIB Nabire, Dirjenpas Bicara Pembinaan

“Genre akan kuat jika didukung sistem industri yang konsisten dan berkelanjutan,” jelasnya.

Gelombang Musik Timur Menguat Sejak 2025

Tren kebangkitan musik Indonesia Timur sebenarnya telah terlihat sejak 2025. Puncaknya terlihat dalam ajang Big Bang Stage Timur All Stars di JIExpo Kemayoran, 10 Januari 2026. Sejumlah musisi tampil dan mencuri perhatian publik, di antaranya Juan Reza, Ecko Show, Toton Caribo, Wizz Baker, Fresly Nikijuluw, hingga Vicky Salamor.

Ketua Umum Anugerah Musik Indonesia (AMI), Candra Darusman, juga mengonfirmasi meningkatnya kehadiran lagu-lagu Indonesia Timur dalam ajang AMI. Ia menilai apresiasi musik kini tidak lagi terpusat di Jakarta, tetapi semakin merata ke seluruh Nusantara.

Musisi Dorong Pengakuan dan Ruang Khusus

Musisi asal Gorontalo, Ecko Show, menekankan pentingnya “rumah” bagi musik Indonesia Timur, terutama dalam pengelompokan genre dan sistem pengakuan nasional.

Sementara itu, musisi Ambon Hany Patikawa mengusulkan digelarnya malam penganugerahan khusus bagi musisi Indonesia Timur dengan identitas tersendiri guna memperkuat ekosistem musik daerah.

Pemerintah Siap Fasilitasi Pembentukan Genre Baru

Menanggapi berbagai masukan, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menegaskan bahwa negara hadir sebagai fasilitator. Ia menyatakan musisi memiliki ruang untuk membentuk genre baru karena musik Indonesia Timur telah memiliki ekosistem, penggemar, dan dukungan media digital.

Baca juga:  Lampu Jalan di Siriwini Padam Sebulan, Pengakuan Warga Ini Bikin Geli

“Jika ekosistem dan audiens sudah terbentuk, penamaan genre adalah hal yang wajar dan sah,” ujarnya.

Ciri Khas Musik Indonesia Timur

Musik Indonesia Timur dikenal dengan karakter yang kuat, mulai dari penggunaan bahasa daerah, dialek khas, hingga perpaduan instrumen tradisional dengan beat modern. Spektrumnya luas, mencakup hip-hop berbahasa lokal, pop ceria bernuansa jenaka, hingga balada emosional.

Lagu Orang Baru Lebbe Gacor karya Ecko Show misalnya, mengangkat kisah membuka hati untuk hubungan baru. Sementara Mode Pesawat dari Dandy Barakati menggunakan metafora kreatif tentang keinginan menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dunia digital. Tema-tema tersebut terbukti relevan bagi generasi muda.

Menuju Peta Jalan Musik Indonesia Timur

Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperkuat ekosistem musik melalui Program Manajemen Talenta Nasional, yang membuka ruang pembinaan serta kolaborasi antara seniman dan profesional industri.

FGD Peta Jalan Ekosistem Musik Indonesia Timur menjadi langkah awal membangun sinergi antara pemerintah, musisi, sektor swasta, dan masyarakat. Harapannya, Timurnesia bukan sekadar nama, melainkan gerakan budaya yang mampu menciptakan gelombang musik Indonesia Timur di tingkat global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup