Diduga Jadi Korban Pengeroyokan, Siswa SMP di Nabire Alami Trauma, Ibu Minta Keadilan
NABIRE – Seorang siswa SMP di Nabire berinisial CRP (14) diduga menjadi korban pengeroyokan dan pembulian oleh sejumlah remaja pada Selasa malam (13/1/2026). Peristiwa tersebut terjadi di depan SD Yapis Nabire, Jalan Surabaya, Papua Tengah.
Ibu korban, NND, menceritakan kejadian itu saat ditemui di kediamannya, Jumat (16/1/2026) malam. Ia bilang, peristiwa tersebut terjadi ketika anaknya hendak keluar rumah untuk menumpang mandi di rumah seorang temannya di Jalan Kusuma Bangsa.
“Anak saya melintas di Jalan Surabaya, tepat di depan SD Yapis, lalu dihadang beberapa anak muda. Tiba-tiba anak saya dikeroyok dan dibully malam itu,” ujarnya kepada infonabire.com.
Menurut pengakuannya, anaknya mengalami pemukulan dan mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Ia juga menyebut korban sempat dipaksa merokok dan mengalami luka di bagian wajah akibat bakaran rokok. Akibat luka bakar tersebut, korban telah menjalani visum sebagai bagian dari proses pelaporan ke pihak berwajib. Selain luka fisik, korban juga mengalami trauma yang cukup berat secara mental.
Ia menyebut, peristiwa tersebut diduga berkaitan dengan insiden sebelumnya yang melibatkan salah satu Mitra MBG dan seorang Kepala Sekolah salah satu SMP di Nabire. Ia menjelaskan, saat itu terjadi ketegangan di lingkungan sekolah yang berujung pada aksi spontan sejumlah siswa.
“Imbas dari kejadian di sekolah itu, anak saya yang jadi sasaran. Padahal dari banyak siswa, cuma anak saya yang mengalami pembulian dan pengeroyokan,” ungkapnya.
Diketahui sebelumnya, persoalan antara seorang Kepala Sekolah salah satu SMP di Nabire dan salah satu Mitra MBG di Nabire telah diselesaikan secara damai di Polsek Nabire Kota pada Selasa (13/1/2026) siang, sebagaimana diberitakan infonabire.com.
Namun, ia mengaku telah melaporkan dugaan pengeroyokan terhadap anaknya ke pihak kepolisian.
Hingga hari keempat pasca laporan, ia menyebut belum menerima informasi perkembangan penanganan perkara tersebut.
“Saya sudah lapor, tapi sampai sekarang belum tahu kasusnya berjalan seperti apa. Saya cuma berharap ada keadilan buat anak saya,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejak kejadian tersebut, anaknya mengalami ketakutan berlebihan, enggan keluar rumah, tidak berani ke sekolah, bahkan merasa cemas saat mendengar suara kendaraan di sekitar rumah.
“Saya cuma minta perhatian dan keadilan dari aparat kepolisian. Saya single mom, berjuang sendiri untuk anak saya. Jangan sampai ada korban berikutnya,” katanya.
Sementara itu, MY, orang tua terduga pelaku berinisial F, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp pada Jumat (16/1/2026) malam, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang terjadi di luar sepengetahuannya.
Ia menegaskan tidak pernah menyuruh tindakan tersebut dan menyebut aksi anaknya terjadi secara spontan. Menurutnya, situasi saat itu dipicu oleh emosi sesaat, sebagaimana reaksi anak yang melihat orang tuanya diperlakukan tidak pantas.
“Perilaku itu tidak bisa dibenarkan, dan saya sudah menegur anak saya,” ujarnya.
MY juga membantah informasi terkait jumlah pelaku. Ia menyebut pengeroyokan itu dilakukan oleh dua orang, bukan enam seperti yang beredar.
Meski demikian, ia mengaku siap memenuhi panggilan kepolisian apabila dimintai keterangan terkait peristiwa tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penanganan laporan dugaan pengeroyokan tersebut.








