Warisan yang Tak Selesai
Robi Magai meninggalkan pekerjaannya di Freeport dan pulang ke Kampung Abaimaida untuk meneruskan perjuangan sang ayah menjaga pendidikan anak-anak.
DOGIYAI – Pintu kelas itu hampir tak pernah lagi terbuka setelah kepala sekolahnya meninggal. Di Kampung Abaimaida, Distrik Mapia, suara anak-anak perlahan menghilang dari ruang belajar. Lalu seorang anak pulang. Ia datang bukan sekadar membawa kunci sekolah, melainkan melanjutkan pekerjaan yang ditinggalkan ayahnya.
Anak itu Robi Magai. Enam tahun bekerja di PT Freeport Indonesia tak membuatnya melupakan sekolah kecil tempat ayahnya pernah mengajar. Ketika tak ada lagi guru yang bertahan, ia memilih kembali.
Bagi banyak orang, meninggalkan pekerjaan di perusahaan tambang adalah keputusan yang sulit. Bagi Robi, yang lebih sulit adalah membiarkan anak-anak di kampungnya kehilangan kesempatan belajar.
Sejak 2023, ia mengajar sekaligus memimpin TK PAUD Santa Maria Tak Bernoda Abaimaida. Status ASN tak dimilikinya. Namun setiap pagi ia tetap membuka kelas, mengenalkan huruf, angka, sekaligus menanamkan disiplin, sopan santun, dan sikap saling menghormati.
Di sekolah sederhana itu, Robi merasa sedang meneruskan pekerjaan yang belum selesai. Ia tak sekadar menggantikan ayahnya sebagai kepala sekolah, tetapi menjaga agar cita-cita sang ayah tetap hidup lewat anak-anak yang datang belajar setiap hari.
Warisan ternyata tak selalu berupa tanah atau harta. Di Abaimaida, warisan itu adalah sebuah ruang kelas yang tetap menyala karena seorang anak memilih pulang.

































