Dari Cuci Ompreng, Ada Harapan yang Tumbuh di SPPG Girimulyo
NABIRE, INFONABIRE.COM – Bagi sebagian orang, mencuci ompreng mungkin terlihat sebagai pekerjaan sederhana. Namun, bagi Ferry Keiya, 30 tahun, pekerjaan itu menjadi bagian penting dari upayanya membangun kehidupan dan menopang usaha kecil yang ia jalankan dari rumah.
Ferry merupakan Orang Asli Papua (OAP) yang bekerja di Divisi Cuci Ompreng pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Girimulyo, Jalan Sinak Atas (Lorong Enarotali), yang dikelola Yayasan Anak Papua Tengah Hebat.
Senin (14/9/2026), Ferry menceritakan bagaimana keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui SPPG Girimulyo memberikan kesempatan baginya untuk bekerja sekaligus memperoleh penghasilan tambahan.
Ia mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dari SPPG tersebut, terlebih lokasi tempat kerjanya berada tidak jauh dari tempat tinggalnya.

“Saya bekerja di sini untuk menunjang usaha saya juga di rumah. Ada usaha kecil-kecilan. Saya bersyukur dengan adanya MBG atau SPPG yang ada di Girimulyo karena saya juga berada di daerah yang dekat dengan Girimulyo,” ujar Ferry.
Menurutnya, penghasilan dari pekerjaan tersebut dapat membantu menopang usaha kecil yang sedang dijalankannya di rumah.
Karena itu, ia berharap program MBG dapat terus berjalan sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima makanan bergizi, tetapi juga oleh masyarakat yang mendapatkan kesempatan bekerja di dalamnya.
“Harapan saya, MBG terus berjalan,” katanya.
Bagi Ruth, pekerjaan ini berarti membantu orang tua
Cerita serupa datang dari Ruth Wanggai, 20 tahun. Perempuan asli Papua ini juga bekerja di Divisi Cuci Ompreng SPPG Girimulyo.
Bagi Ruth, pekerjaannya bukan hanya tentang mendapatkan penghasilan. Ada tujuan yang lebih besar, yakni membantu kedua orang tuanya dan keluarganya.
Ruth telah bekerja di SPPG Girimulyo selama hampir empat bulan. Ia mengatakan kesempatan tersebut diperolehnya setelah sang kakak melihat informasi lowongan pekerjaan dan kemudian mengajaknya untuk bekerja.

“Itu dari kakak saya. Kakak saya membawa saya ke dapur ini karena kakak saya melihat saya di rumah saja,” tutur Ruth.
Menurut Ruth, dukungan sang kakak menjadi awal dirinya mendapatkan kesempatan untuk bekerja dan belajar mengenal lingkungan kerja di dapur SPPG.
“Jadi kakak saya membantu saya untuk bekerja di sini, untuk membantu kedua orang tua sekaligus keluarga saya,” lanjutnya.
Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaannya pun tidak hanya digunakan untuk kebutuhan dirinya sendiri. Sebagian hasil kerja tersebut dikirimkan kepada orang tuanya.
“Dikirim ke orang tua,” kata Ruth.
Di tempat kerjanya, Ruth juga mendapatkan pengalaman baru. Ia mengaku bisa mengenal teman-teman baru sekaligus terus mendalami pekerjaan yang dilakukan di dapur SPPG.
“Manfaatnya untuk mengenal teman-teman di sini, terus mendalami pekerjaan yang ada di dapur ini,” ujarnya.
Dampak MBG tidak berhenti di meja makan
SPPG Girimulyo saat ini melayani 2.456 penerima manfaat, yang tersebar di lima sekolah dan dua posyandu.
Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas SPPG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bergizi bagi penerima manfaat. Di balik proses tersebut, terdapat orang-orang yang bekerja setiap hari untuk memastikan rangkaian pelayanan berjalan, mulai dari persiapan, pengolahan hingga pencucian ompreng.
Bagi Ferry dan Ruth, menjadi bagian dari proses tersebut menghadirkan arti tersendiri.
Ferry dapat menggunakan penghasilannya untuk membantu mengembangkan usaha kecil di rumah. Sementara Ruth memperoleh kesempatan untuk bekerja sekaligus membantu kedua orang tuanya.
Dua cerita tersebut memperlihatkan sisi lain dari kehadiran SPPG Girimulyo. Program MBG bukan hanya tentang makanan yang sampai kepada penerima manfaat, tetapi juga tentang kesempatan kerja, pengalaman, dan harapan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Di balik ribuan porsi makanan yang disiapkan, ada tangan-tangan yang bekerja. Ada anak muda yang belajar mandiri, ada keluarga yang terbantu, dan ada usaha kecil yang terus berusaha tumbuh.
Bagi Ferry, harapannya sederhana: pekerjaan ini terus ada dan program MBG tetap berjalan.
Sementara bagi Ruth, pekerjaan yang awalnya ditemukan melalui bantuan sang kakak kini menjadi kesempatan untuk melangkah lebih jauh—bekerja, belajar, sekaligus membantu keluarga.
Dari tempat sederhana seperti ruang cuci ompreng, harapan itu ternyata ikut tumbuh.
















