NABIRE – Dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-80 Tahun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melaunching tiga program unggulan pendidikan. Program tersebut yakni Pendidikan Sekolah Gratis, Sekolah Sepanjang Hari (SSH), dan Aplikasi Siswa Orang Asli Papua (OAP).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah, Nurhaidah, SE, bilang tiga program ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan pendidikan yang merata, terjangkau, dan berbasis teknologi di Tanah Papua Tengah.

Pendidikan Sekolah Gratis

Program sekolah gratis diluncurkan untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya tanpa biaya bagi anak Papua Tengah.

Nurhaidah menyebut, kebijakan ini lahir dari arahan Gubernur Papua Tengah serta melihat tingginya angka anak putus sekolah, terutama di daerah konflik. Selain itu, aspirasi orang tua soal mahalnya biaya sekolah juga menjadi dasar program.

Baca juga:  Kebab Turki Alibaba Hadir di Nabire, Laris Manis di Perayaan Cap Go Meh 2025

Program ini menyasar 124 SMA/SMK negeri maupun swasta yang tersebar di Papua Tengah. Kategori penerima manfaat di antaranya siswa dari daerah konflik, anak yatim piatu, anak berkebutuhan khusus, keluarga ekonomi lemah, hingga siswa berasrama.

“Harapan kami, tidak ada lagi lulusan SMP yang terhenti pendidikannya, angka putus sekolah di jenjang SMA dan SMK bisa ditekan,” ujar Nurhaidah.

Sekolah Sepanjang Hari (SSH)

Selain sekolah gratis, Pemprov Papua Tengah juga menerapkan Sekolah Sepanjang Hari (SSH). Program ini membina karakter, kreativitas, hingga prestasi siswa dari pagi sampai sore.

SSH dirancang sebagai metode pendidikan holistik dengan memindahkan pola pendidikan asrama ke sekolah. Anak-anak mulai dari mandi pagi, sarapan, belajar di kelas, hingga mengikuti kegiatan sore seperti olahraga, seni, budaya, dan literasi.

Baca juga:  Kapolda Papua Tengah Hadiri Pertemuan Program Prioritas di Intan Jaya

“SSH hadir untuk memberikan pendidikan yang lebih lengkap bagi anak-anak Papua, terutama di kampung-kampung. Program ini melatih disiplin, membangun interaksi sosial lintas suku, dan meningkatkan penguasaan literasi serta IPTEK,” jelas Nurhaidah.

Program SSH sudah berjalan di 9 sekolah dasar, masing-masing di Nabire, Timika, Paniai, Puncak Jaya, dan Intan Jaya.

Aplikasi Digital Siswa OAP

Program ketiga adalah pengembangan aplikasi SIMAPTENG (Sistem Aplikasi Papua Tengah) yang memuat data siswa Orang Asli Papua (OAP) dan non-OAP dari PAUD hingga SMA/SMK.

Nurhaidah bilang, aplikasi ini menjadi inovasi digital untuk mempermudah layanan pendidikan sekaligus menjamin transparansi data.

“SIMAPTENG adalah wujud komitmen kami dalam memajukan pendidikan Papua Tengah. Ke depan, sistem ini juga akan mendata anak-anak usia PAUD hingga SMA berbasis kampung, baik yang tercatat di sekolah maupun belum,” tegasnya.

Baca juga:  Gubernur Papua Tengah Apresiasi PT Freeport Indonesia Gelar Operasi Katarak Gratis di Nabire

Harapan untuk Papua Tengah

Melalui tiga program ini, Pemprov Papua Tengah menargetkan meningkatnya kualitas pembelajaran, penguasaan literasi, dan pemahaman teknologi di kalangan siswa. Pemerintah juga berharap angka putus sekolah menurun, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Papua Tengah terus meningkat.