Salut! Inovasi Dapur SPPG Siriwini 003 Ini Hemat Air, Tenaga dan Waktu untuk Ribuan Ompreng
Bagaimana Hj. Siti Salma Menciptakan Alat Ini?
Dari situlah ide inovasi mulai muncul. Ia kemudian mengajak adiknya untuk membantu mewujudkan konsep alat yang sudah ia bayangkan. Dengan sketsa sederhana, keduanya mulai mencari bahan yang cocok.
Awalnya mereka sempat mempertimbangkan menggunakan kontainer plastik. Namun niat itu dibatalkan karena materialnya dinilai terlalu tipis dan berisiko pecah akibat tekanan serta volume air yang cukup besar.
Tak ingin berhenti di tengah jalan, mereka kemudian beralih menggunakan fiber, bahan yang dinilai lebih kuat, tahan panas dan cocok untuk kebutuhan dapur dengan intensitas tinggi.
Siti Salma lalu menggandeng tenaga pembuat fiber yang biasa bekerja dengannya. Mereka duduk bersama, berdiskusi dan berkolaborasi hingga alat yang diinginkan akhirnya berhasil dibuat sesuai kebutuhan dapur SPPG.
Hasilnya cukup mengejutkan. Jika sebelumnya pencucian lebih dari dua ribu ompreng dilakukan secara manual menggunakan spons dan ember dengan waktu kerja sangat panjang, kini proses itu bisa berjalan jauh lebih cepat.
“Kalau dulu kita cuci ompreng bisa sampai 12 jam, sekarang dengan alat ini lebih dari dua ribu ompreng bisa selesai sekitar 4 jam,” ungkapnya.
Tak hanya memangkas waktu kerja, alat tersebut juga membantu relawan bekerja lebih ringan tanpa harus berjibaku hingga kelelahan.
Selain itu, hasil pencucian disebut jauh lebih bersih. Aliran air yang cukup kuat mampu membersihkan sisa makanan maupun bau sabun yang menempel pada ompreng.
“Ompreng yang sudah dicuci itu benar-benar bersih. Tidak ada lagi bau sabun, bau makanan atau amis,” jelasnya.
Keunggulan lain dari inovasi tersebut ialah penggunaan air yang jauh lebih hemat dibanding sebelumnya. Sebelum alat itu digunakan, dapur SPPG bisa menghabiskan ribuan liter air setiap kali pencucian.
Bahkan, menurut Siti Salma, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sempat kewalahan karena volume air yang terlalu besar.
“Dulu kita bisa habiskan sampai sekitar 6.000 liter air dan IPAL sampai meluap. Saya pikir kalau terus seperti itu, bisa rusak karena sudah lewat kapasitas,” katanya.














